Senin, 25 Januari 2016

Jiwa Yang Besar

Saya pernah mendengar kisah seorang pelukis jalanan yang tinggal di sebuah kota kecil. Namanya George. Ia gemar melukis di trotoar jalan dengan kapur warnanya. Ia membuat jalanan yang biasa menjadi luar biasa. Karyanya sering dipuji para pejalan kaki yang lewat ketika ia menuangkan imajinasinya di atas trotoar jalan. Suatu saat ia menghilang dan tak melukis seperti hari-hari yang lalu. Ternyata ia mempersiapkan satu rancangan gambar yang telah lama ia pelajari untuk dilukis di suatu ajang lomba tahunan di sebuah desa. Hingga pada waktunya ia datangi desa tersebut dan ia ternyata punya banyak pesaing. Tapi tetap saja para penonton riuh memberi semangat pada George.
Semua peserta sudah tampak menyerah melihat lukisan George yang hampir selesai. Tapi tiba-tiba langit mulai mendung dan rintik hujan mulai membasahi lokasi lomba. Hujan kian deras dan habislah impian George untuk meraih gelar juara tahunan itu. Goresan kapur yang indah yang menuai banyak pujian tak kuasa menahan hujan yang menghapus gambarnya. Semua persiapan George harus berakhir hanya karena tetesan air hujan, bahkan ia di tertawakan oleh para pesaingnya karena kegagalan hari itu.
Mungkin cerita seperti di atas tidak jauh beda dengan daftar sejarah kegagalan kita dalam suatu tantangan hidup. Entah dalam hal pekerjaan, rumah tangga, persahabatan, hingga dalam hal pelayanan gereja. Kita mungkin sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik, bahkan dengan sangat sempurna. Tapi apa daya, kegagalan kadangkala tak pandang bulu. Tak peduli betapa kita sudah berkorban begitu banyak dalam mempersiapkan semuanya itu.
Meski kegagalan terjadi, jangan biarkan hal itu menjadi alasan untuk menghentikan langkah hidup kita. Sebab Tuhan berjanji bahwa masa depan sungguh ada, dan harapan kita tidak akan hilang. Dalam situasi seperti ini kualitas hidup kita sungguh diuji. Apakah kita akan menyerah kalah? Ataukah sebaliknya kita berani menerima kegagalan itu dan mengulanginya lagi dari awal? Di sinilah dibutuhkan jiwa yang besar, bukan jiwa yang kerdil. Hanya orang dengan jiwa yang besar lah yang sanggup berdamai dengan kegagalan dan menjadikan sebuah titik balik yang luar biasa bagi kesuksesannya di waktu yang akan datang. ~Hadi. S~

Pantaskah saya jadi Entrepreneur ?

Warning:
Tulisan ini mungkin bisa disturbing dan membuat Anda menjadi gelisah. Memang itu tujuannya.
Semuanya dimulai dari BDSA. Belief, Dream, Strategy, Action. Mulai dari memutuskan apakah Anda memang pantas menjadi entrepreneur, sampai Anda benar-benar terjun menjadi entrepreneur. Semuanya, dimulai dengan BDSA. Tulisan ini bisa membantu Anda untuk memutuskan apakah Anda cocok menerjuni dunia entrepreneurship, dan membantu Anda juga jika Anda memang sudah berada di dalamnya.
Saya sadur dari tulisan menarik dari "The Lazy Way To Success", saya terjemahkan dengan bebas, dan kemudian saya tambahkan opini dan cara pandang saya sendiri. Isinya, tentang sepuluh tanda apakah Anda memang cenderung lebih cocok menjadi entrepreneur, atau sebaliknya lebih tepat menjadi pegawai pada perusahaan, organisasi, atau orang lain.
Tulisan ini pun tidak ditujukan untuk menohok apapun profesi yang sedang Anda geluti sekarang. Juga, tidak untuk menohok dunia profesional itu sendiri. Apapun yang Anda kerjakan dan terjuni saat ini, pastilah sesuatu yang baik dan pantas dihargai. Semoga bermanfaat.
Saya akan memulainya dengan inspirasi dari Robert T. Kiyosaki.
Rata-rata entrepreneur, memulai kerajaan bisnisnya dari bawah. Mereka mengalami masa-masa sulit, saat dalam kesendirian, saat dunia tak tertarik dengan apapun yang ditawarkan oleh mereka. Saat segala macam dan jenis kesulitan mereka alami, saat segala kendala mereka hadapi, dan saat berbagai kekurangan dan ketidakcukupan masih menjadi menu mereka sehari-hari.
Lucunya saat mereka sukses, mereka malah "memaksa" generasi penerusnya, anak dan cucunya, untuk memahami, menerjuni, dan menyelami dunia entrepreneurship dan hanya sedikit yang merekomendasi mereka untuk menjadi pekerja atau menjadi bawahan.
Kontradiktif? Tidak sama sekali.
Para entrepreneur sangat memahami sejarah kerajaan bisnis mereka. Mereka juga tak akan pernah lupa dengan segala sakit dan derita yang mereka rasakan di masa-masa awalnya. Justru itulah, mereka berharap bahwa generasi penerus dan anak cucunya, tidak boleh menjalani proses dan prosedur yang sama menyakitkannya. Mereka ingin, generasi penerus dan anak cucu mereka menjadi entrepreneur yang tidak lagi memulai dari bawah seperti mereka sendiri. Mereka, menginginkan anak cucu mereka memulai dunia entrepreneurshipnya , dari atas.
Jika kita sendiri membangun bisnis dari nol, atau dari status sebagai pegawai pada orang lain, masihkah kita ingin anak dan keturunan kita memulainya dari titik yang sama? Dengan segala sakit dan penderitaan yang sama? Tentu tidak. Kita ingin anak cucu kita memulai kerajaan bisnisnya di titik yang lebih tinggi dari tempat kita memulainya dulu.
Jika kita direktur, kita ingin anak kita memulainya dengan menjadi direktur. Dulu bisa jadi kita memulainya dari office boy. Kalau toh menurut kita itu juga harus mereka jalani, itu cuma plot dan mencari pengalaman atau pengetahuan. Intinya, kita tidak ingin mereka menderita dengan cara yang sama.
Kita ingin mereka menjadi "penerus" kesuksesan bukan "pengulang" kesuksesan
Mengapakah mereka begitu ngotot agar generasi penerus dan anak cucu mereka juga menjadi entrepreneur? Di antara alasannya adalah yang berikut ini.
Berikut ini adalah "Sepuluh Tanda Bahwa Anda Lebih Cocok Menjadi Entrepreneur" .
10. Jika Anda adalah jenis manusia yang tidak bisa dipekerjakan. Anda sulit memegang jabatan. Anda tidak menginginkannya, seperti seekor kucing yang diminta mandi.
09. Jika Anda anti otoritas. Anda pembangkang atau pemberontak. Di kepala Anda, Anda hanya ingin menjadi boss, presiden, presdir, kaisar, raja, atau baginda.
08. Jika Anda punya semacam kharisma yang bisa membuat orang lain bergerak. Cobalah telusuri lagi diri Anda dan pengaruh Anda pada lingkungan terdekat di sekitar Anda.
07. Jika Anda tidak pernah lelah untuk terus mencari segala alternatif peluang ekonomis, di manapun dan kapanpun. Anda bisa melakukannya karena kepepet, atau karena memang suka saja. Anda sering terjebak, bukan oleh event tapi oleh berbagai analisis ekonomis. Di bioskop, Anda bukan menonton film, eh malah sibuk menghitung-hitung berapa keuntungan pemilik bioskop, penghasilan aktor film itu, atau produsennya di Hollywood.
06. Jika Anda terus memikirkan berbagai hal dalam konteks lebih mudah, lebih cepat, lebih murah, lebih efisien, lebih efektif, ketimbang cara-cara yang sudah biasa.
05. Jika Anda bisa dengan senang hati melepaskan berbagai keamanan dan kenyamanan, untuk menerjuni dunia lain yang dipenuhi petualangan dan teror.
04. Jika Anda bisa melihat dan meyakini bahwa keterbatasan uang, pengetahuan, atau pengalaman bukanlah penghalang. Anda sanggup bersaing.
03. Jika Anda lebih senang pada faktor kali ketimbang faktor tambah. Anda lebih suka 2x2 ketimbang 2+2.
02. Jika Anda bisa dengan senang hati menggadaikan rumah Anda atau rumah mertua Anda, saat memulai sebuah bisnis. Hati-hati dengan yang satu ini.
01. Jika Anda bisa memprediksi, bahwa dalam lima tahun Anda bisa membeli Argentina dan kemudian menjualnya kepada Brazil.
00. Jika Anda sudah E.D.A.N. sehingga Anda memang benar-benar secara total sudah merasa N alias Nothing To Lose.
Cobalah Anda pertimbangkan kecocokan profil Anda dengan sebelas poin di atas. Jika Anda masih belum merasa memiliki karakteristik di atas, maka ada dua opsi untuk Anda.
1. Anda memang bukan orang yang cocok menjadi entrepreneur. Anda boleh menjadi pegawai orang lain dengan syarat Anda memang nyaman dengan dunia itu.
Jalani, dan tunggulah saat pensiun datang. Ketika itu, Anda sekali lagi akan dihadapkan pada profilisasi dengan sebelas poin di atas sekali lagi. Saat itu, Anda tak akan punya pilihan lain kecuali memutuskan untuk menjadi entrepreneur.
Anda mungkin senang hanya duduk di kursi goyang seharian dan menikmati tabungan di saat pensiun. Tapi ingat, Anda mungkin sudah 30 tahun lebih terbentuk menjadi orang yang bekerja setiap hari. Anda tidak mungkin lagi menganggur, karena sifat itu sudah hilang dari diri Anda. Anda tak bisa hanya tinggal diam. Anda pasti punya mimpi lanjutan.
2. Anda ingin atau telah memiliki sebelas karakteristik di atas, tapi Anda masih diliputi keraguan dan kebimbangan. Jika ini yang Anda rasakan, Anda harus mundur dua langkah ke belakang plus Anda harus mendapatkan karakteristik yang nomor "00" di atas.
Sebelas poin di atas, sebagian besarnya sudah termasuk dalam wilayah "strategi". Mundurlah kembali saat ini juga, untuk memperbaiki "beliefs" dan memperkuat "dreams" Anda.
Untuk manapun yang Anda pilih, dan untuk manapun yang menjadi posisi Anda saat ini, mulailah menjadi pembelajar entrepreneurship dengan BDSA sekarang juga.
Semoga bermanfaat.

SIKAP SUKSES John D. Rockefeller

Membaca kisah-kisah orang sukses memang sungguh menggairahkan. Saya bisa mengambil makna dan hikmah yang sangat baik, dan sekiranya bisa juga saya terapkan untuk mengembangkan potensi saya sendiri, baik potensi diri maupun potensi bisnis saya.

Tokoh sukses yang satu ini juga sangat menarik perhatian saya. Mungkin sebagian dari Anda ada yang belum tahu sosok ini? John Davison Rockefeller atau biasa disingkat dengan John D. Rockefeller...Sang RAJA MINYAK dari United State (Amerika Serikat). Dia lahir pada 9 Juli 1839 di sebuah desa pertanian miskin dekat Ricford, New York, Amerika Serikat...dan meninggal dalam usia 98 tahun pada 23 Mei 1937, di Ormond Beach, Florida, Amerika Serikat.

John D. Rockefeller inilah pendiri dan pemilik perusahaan pengilangan minyak bernama Standard Oil, yang saat ini dikenal dengan nama lain yaitu perusahaan minyak EXXON...yang saat ini kabarnya EXXON merupakan satu-satunya perusahaan pengilangan minyak di Amerika Serikat.

Nah, saya menuliskan beberapa point penting dalam hal bersikap pada diri Sang RAJA MINYAK ini, dan sikap inilah yang membawa seorang John D. Rockefeller menjadi sangat sukses. Sampai-sampai jumlah kekayaannya sangat sulit untuk dihitung, dan itu membutuhkan waktu selama bertahun-tahun.

Sampai sekarang, organisasi sosial yang didirikannya yaitu Rockefeller Foundation, sampai saat ini tetap merupakan organisasi pecinta sesama umat manusia, dan merupakan organisasi kemanusiaan terbesar di dunia dengan dana lebih dari 50 Triliun Rupiah!!! Dana ini dipergunakan untuk perdamaian dunia, beasiswa anak cacat dan miskin, juga untuk penelitian bagi perkembangan dunia ilmu pengetahuan.

Berikut ini point-point sikap mental, yang menjadikan John D. Rockefeller menjadi orang sangat sukses, yang saya coba sarikan buat kita semua:

01.Selalu Hemat dan Disiplin terhadap Uangnya.
02.Selalu Percaya bahwa Uang Harus Bekerja Untuk Dirinya.
03.Selalu Bekerja Untuk Kepuasan Jiwanya.
04.Selalu Menganggap Tekanan itu Menggairahkan dan Sebagai Tantangan Untuk Maju.
05.Selalu Belajar Terus Untuk Meningkatkan Potensi dan Kemampuan Dirinya.
06.Selalu Punya "Passion", Semangat Membara Dalam Meraih Cita-Citanya.
07.Selalu Punya Keinginan Kuat Untuk Semakin Memperbesar Penghasilan dan Bisnisnya.
08.Selalu Membuat Metode dan Strategi Bisnisnya Secara Detil Sekali.
09.Selalu Melihat Ada Celah Lain Dalam Bisnisnya.
10.Selalu Tidak Pernah Menunda Pekerjaannya.
11.Selalu Melakukan "Take Action" Dengan Cepat Jika Ada Ide Bisnis Baru.
12.Selalu Mendalami Pengetahuan Bisnisnya Untuk Menguasainya.
13.Selalu Mencari Orang Kepercayaan Terbaiknya Secara Selektif Ketat, Meskipun Mahal.
14.Selalu Membuat Nota Kesepakatan (MoU) Dalam Setiap Kerjasama Bisnis.
15.Selalu Menyisihkan Keuntungan Bisnisnya Untuk Amal Sosial.
16.Selalu Tidak Pernah Marah.
17.Selalu Tidak Pernah Tidur Siang.
18.Selalu Beribadah Kepada Tuhan Sang Maha Pencipta Hidup.
19.Selalu Menghargai Waktu dan Menggunakan Waktunya Dengan Sebaik-baiknya.
20.Selalu Berhati-hati Dalam Setiap Langkah Hidupnya.
~ Hadi. S ~